Ini Fakta Sejarah Asal Usul Kolintang Menurut Alexander Katuuk

oleh -
Foto Pemandangan permainan Kolintang tahun 1957

Inspirasikawanua.com – Minahasa Utara, Alex Katuuk salah satu pemerhati Kolintang di kabupaten Minut yang juga mantan pemain kolintang Kado’odan, yang berdomisili di Desa Lembean, kecamatan Kauditan, kepada media ini menceritakan sejarah asal usul kolintang di tanah Tonsea.

Menurut Katuuk cerita terkait kolintang ini berdasarkan sumber dari beberapa orang tua dan buku tua yang merupakan warisan dari orang tua atau leluhurnya, yang dulunya pernah menjad Hukumtua (Kepala desa) Lembean.

Dilanjutkannya, Kolintang 3 bilah di tanah Tonsea yaitu tanah Minahasa dulunya dan saat ini sudah dimekarkan menjadi kabupaten Minahasa Utara (Minut), sudah ada sejak tahun 1200 an, yang dimainkan oleh Opo Dangkaiwani atau lebih dikenal dgn Opo Siouw Kurur.

“Waktu itu di Tonsea hidup juga Opo (Leluhur) Mamengkas atau Opo Klabat, Opo Makararang di Kadimbatu, Opo Tumi’deng yang dikenal sebagai pembawa bibit padi di Tonsea dan Opo Lingkanbene seorang Opo Wanita yang cantik,” beber Katuuk.

Kolintang Kado’odan tahun 1970

Lanjutnya, Setelah pertemuan terakhir di Watu pinabetengan dan pertempuran antara Spanyol dan Tombulu yang dikenal dengan perang Tombulu diawal abad ke XVII. Para leluhurpun secara berkelompok mulai mencari tempat yg layak untuk kehidupan mereka.
Setelah Opo Pongosaidi (Kapala walak Tonsea pada tahun 1660) melakukan survey dari Kema sampai Kumelembuai melalui Lalan Krois yang dirintis oleh Portugis pada Abad ke XVI. Saat itu para leluhur secara berkelompok berpindah tempat (Tumampas) dari Kembuan melalui, Koyawas (kemudian menjadi Desa Sawangan), Kadimbatu, lalu ada yang tinggal di Tumaluntung (dahulu Matelenteng) ada yang terus sampai di Treman, Kaasar dan terakhir Lembean.

Untuk menghindari dari Binatang-binatang buas maka para leluhur memukul bilah-bilah kayu sambil mereka menyanyi yang kemudian dikenal dengan Tetambaken.

Di Lembean ada tempat bernama Waleposan tempat dimana para Opo mengaley (berdoa) pada Opo Empung Waidan.

Ritual mengaley wia si Empung Waidan dengan diiringi ketukan pada bilah-bilah kayu Wanderan yang kemudian dikenal dengan nama kolintang (tang, ting, tong) tetap terpelihara sampai pada awal tahun 1800 an ketika NZG masuk di Tanah Minahasa di Kema pada tahun 1832.

Para Hukumtua menjemput Johan Riedel dari Kema ke Kaasar pada tahun 1832 itu untuk melakukan baptisan pada para leluhur di Kaasar, Lembean dan sekitarnya.

Pada akhir tahun1800 an banyak Perompak dari Pilipina Selatan datang berteduh di pesisir pantai di seberang Lembeh yang kemudian menjadi Bitung. Pada waktu itulah para perompak ikut juga membawa Seni ber Kolintang ke Pilipina setelah mereka diusir dikalahkan oleh para Waraney Tonsea pimpinan Opo Simon Tudus dari Sawangan (Koyawas).

Alexander Katuuk bersama istri

Pada tahun 1927 terbentuklah Bitung menjadi sebuah Desa dengan besluit dari Pemerintah Hindia Belanda. Hingga sekarang khususnya pada malam tertentu (seperti pada bulan purnama) di sekitar Danau Seper dan di Waleposan beringin masih terdengar bunyi musik kolintang yang indah.

Menurut Katuuk terdapat pengaruh besar dari HHM sebagai maskapai onderneming dalam perkembangan musik di tanah Tonsea. Seni berkolintang, Maengket, Liliroyor, Tetambaken di Lembean, semakin berkembang pada tahun 1920 an ketika Hendrik Wullur (Tete Gerry) menjadi Hukumtua di Lembean.

Hendrik Wullur yang lahir di Wanua Lembean tahun 1884 (adalah salah satu putera dari Arnold Wullur dan Maria Katuuk), meninggal tahun 1970, bekerja di Wanua Kaima sebagai Pegawai pada Maskapai Ondernemeng Kelapa (HHM), selain itu beliau juga adalah Hukum Tua atau Kepala Desa Lembean yang legendaris yaitu dari tahun 1922 sampai 1936.

Selain mengembangkan ekonomi dan pertanian desa dengan membuat irigasi desa yang terkenal dengan nama Lalana Rarem, Hendrik Wullur juga mengembangkan Kesenian di desanya dengan melatih Maengket dan Lili Royor serta menciptakan syair-syair Tetambaken dan Maroyor (Nyanyian Bertutur).

Disamping itu, sebagai salah satu pimpinan pegawai Maskapai HHM maka pada awal tahun 1920-an, beliau yang memiliki bakat musik termasuk yang mengajarkan Maxi Luntungan tehnik membuat kolintang sesuai kaidah musik universal. Setelah menimba ilmu dari tuan Marmerstejn yang sekaligus teman dan pimpinan dalam perusahaan kelapa di Kaima. Beliau pun dengan kedekatan dan karakter pribadinya yang supel diberikan kewenangan oleh tuan Marmerstejn atas penguasaan bagian bagian tugas usaha termasuk peralatan musik barat milik tuan Marmerstejn sehingga pada kesempatan tidak kwartalan perlengkapan musik dibawa ke Lembean dan melatih pemuda pemuda desa Lembean bermain Violin dan bermain instrumen-instrumen Brass, disamping ketrampilan pandai besi dan tukang kayu yang dikembangkannya.

Bermain musik juga bagi para pemuda yang ada didesa bisa mengisi hari hari disaat tidak panen kelapa. Hendrik Wullur pun mewadahi para pemusik dengan misionaris Zending yang Protestan dan juga komunitas Katolik di Lembean dan sekitarnya.

Hendrik Wullur yang memiliki saudari yang menikah dengan The Hwa Tie yang merupakan partner bisnis dengan tuan Marmerstejn, semakin luas pengetahuannya dan ketanah Jawa pun diberikan VOC bagi para tuan tanah/kelapa yang memiliki luasan atau jumlah pohon yang diatas 1000 pohon kelapa. Pemusik-pemusik jebolan HHM (istilah yang dikenal saat itu, karena mempelajarinya menggunakan peralatan milik HHM) yang terkenal pada masa itu adalah Papa Saul (marga Sundah), Papa Liana (marga Sundah), Papa Lukas (marga Sundah), Papa Ade (Jacob Sundah) dan Papa Majus atau Anton Luntungan. Sekali sebulan mereka diantar oleh Hendrik Wullur untuk dapat menunjukkan hasil latihan mereka di Kompleks Maskapai HHM untuk tampil mengisi acara pesta dirumah tuan Marmerstejn.

Seiring dengan perkembangan waktu, selanjutnya kegemaran mereka bermain musik juga menurun kepada anak-anak mereka serta masyarakat desa Lembean lainnya, sehingga sampai pada tahun 2000-an kelompok musik Brass masih ada di desa Lembean dengan pemain-pemain yaitu Lukas Sundah, Saul Sundah, Albert Sundah, Hendrik Songkiling, Kambey Lasut dan lain-lain.

Selain di desa Lembean oleh seniman-seniman Maskapai Ondernemeng, musik Brass juga berkembang di seluruh Wilayah Minawerot Daerah Tonsea bahkan diseluruh Minahasa.

Sebagai contoh, Musik Brass yang sampai saat ini masih eksis adalah kelompok musik Brass Garuda dari keluarga Indy di desa Tumaluntung Minawerot Tonsea, musik brass pimpinan Sander Julius Keiser di Laikit dan Tirayoh di Tatelu. Penyebaran pengaruh musik marmerstejn ini menjadi lebih cepat di Wilayah Tonsea, karena faktor bertemunya para pengangkut kelapa dari berbagai desa di Airmadidi yang menjadi pusat dari pemerintahan dan dagang di Wilayah Tonsea, setelah Kema yang menjadi pelabuhan awal yang dilanjutkan dengan pelabuhan di Calaca Manado dan Amurang. Demikian pula dengan adanya kompensasi dari Belanda untuk desa desa di Minawerot yang wilayahnya terkena ladangnya diambil menjadi batas hutan lindung (ranch pall) diarea kaki gunung Klabat.

Disamping itu peran dari misionaris gereja yang menggunakan pendekatan kultural penjelasan-penjelasan ini membuktikan bahwa keberadaan musik dalam Maskapai HHM Belanda di desa Kaima Minawerot Tonsea sangat mempengaruhi perkembangan musikal Barat masyarakat Minawerot Tonsea dan juga Minahasa secara umum.

Sementara itu, selain musik-musik HHM/Marmerstein Belanda dengan Musik Brass, di wilayah Minawerot Tonsea juga tetap hidup dan cukup popular, musik-musik orkes peninggalan Portugis, yaitu musik ansambel dengan dengan instrumen-instrumen seperti Ukulele atau Juk, Banjo, Gitar, Mandolin dan Cello Petik. Portugis masuk daerah Minahasa melalui Kema pada awal abad ke XVI dan melewati wilayah Minawerot-Airmadidi-Kalawat menuju Desa Kali Pineleng, bekas jalannya di wilayah Minawerot masih ada sampai sekarang, dan dinamakan Lalan Krois.

Demikianlah dalam perkembangan musik selanjutnya, terdapat dua pengaruh besar yang mempengaruhi keberadaan Musik Barat di wilayah daerah ini, yakni Musik Petik dan Gesek peninggalan Portugis dan Musik Brass dari Belanda.

Berkembangnya musik Orkes Kolintang di Tonsea dengan Pemain-pemain Tuna netra yaitu Petronela Mawuntu di Lembean dan Nelwan Katuuk di Kauditan (keduanya adalah keturunan dari Opo Katuuk – 1720). Di Lembean, di awal th 1950 an juga ada Kolintang yang dimainkan oleh Wenses Luntungan (remaja) dengan diiringi petikan Gitar oleh Esau Wullur yaitu adik dari Hendrik Wullur yang cukup piawai memainkan musik petik.

Orkes Kolintang berkembang terus di Lembean dengan Pemain-pemain Melodi Petronela Mawuntu, Yoseph Iwy Sundah, Albert Runtunuwu, Max Saul Sundah dengan Penyanyi Fien Dulage dan Tekla Emor.

Orkes Kolintang tersebut berkembang menjadi Orkes Kolintang Karya Ria yang beberapa kali memenangkan lomba kolintang tingkat Provinsi Sulawesi utara pada tahun 1960 an, orkes kolintang ini bertahan sampai tahun akhir tahun 1960 an. Waktu itu ada juga Grup Kolintang di Suwaan, Kaima, Tumaluntung dan Treman.
Kolintang semakin terkenal ketika pada tahun 1966 Nelwan Katuuk dan grupnya diundang oleh Presiden Soekarno untuk bermain di istana Merdeka Jakarta.

Pada tahun 1960 an banyak pemuda dari Lembean berangkat ke Jakarta dan pada awal tahun 1970 dengan difasilitasi oleh Alfred Sundah (seorang Pejabat di Ditjen Bea & Cukai di Jakarta). Kala itu dibentuklah Orkes Kolintang KADO’ODAN yang kemudian menjadi Kolintang melulu setelah Alfred Sundah pulang kampung mengunjungi Saudara-saudaranya di Lembean.

Alfred Sundah pergi juga berkunjung ke Bengkel Kolintangnya Maxi Luntungan di Lembean (sekarang disebut Lorong Kolintang) dan mereka membicarakan mengenai perkembangan alat musik kolintang, sehingga dibuatlah oleh Maxi Luntungan alat kolintang melodi yang komposisi/struktur nadanya sama dengan piano yang dimiliki oleh Alfred Sundah di Jakarta.

Pembuatan Kolintang melulu tersebut kemudian ditindak lanjuti oleh Maxi Luntungan dan Albert Runtunuwu yang dikirim oleh Alfred Sundah kembali ke Lembean untuk membantu Maxi Luntungan membuat kolintang melulu sekaligus membawa 2 (set) Kolintang Wanderan tersebut ke Jakarta.

Disamping itu, dibuat pula alat kolintang Gitar, Banjo, Ukulele dan Bas, total alat 7 buah yaitu Melodi = 2 bh, Gitar = 2 bh, Ukulele = 1, Banjo = 1 dan Bas = 1. Pada awal th 1970 Kolintang melulu itu yang diberi nama KADOODAN (= berguna, bermanfaat).

Bahan Kayu kolintang bernama WANDERAN banyak tumbuh di sekitar Danau Seper dan di Kaki Gunung Klabat, itu dipakai karena suaranya merdu, soft, bulat pokoknya enak di dengar apalagi ketika mengiringi Penyanyi- Penyanyi seperti Vivi Sumanti, Franz Daromez, rosa Lesmana, Dewi Puspa, Lenny Beslar, Poppy Tindas, Rose Sumanti, Otto Wowiling dan jga pernah mengiringi Tetty Kadi, Erny Djohan dan lain-lain.

Pada th 1970 Kolintang Kadoodan mulai bermain dan ditayang oleh TVRI sta Pusat dan selanjutnya melakukan rekaman di Musica Studio yaitu Album O ina ni Keke dan album Se tedu matuari.
Pada th 1971 muncul juga di Jakarta Orkes Kolintang The Mawenangs asuhan Ibu Vonny Subono-Umboh dengan Pemain melodi Frans Ratag dengan penyanyi Onna Singal, Jack Watupongoh dan lain-lain.

Kolintang Kadoodan dan The Mawenangs pernah bermain satu panggung di Balai Perwira, Kwitang Jakarta, pada tahun 1971. Sama-sama grup Kolintang tapi bunyinya sangat berbeda karena Kadoodan dgn Kayu Wanderan yg soft sedangkan The Mawenangs dgn Kayu Mawenang yang keras dan melengking bunyinya.

Di Lembean juga ada Grup Kolintang Yunior dibawah asuhan Maxi Luntungan dan Butje. H. Moningka. Kolintang Yunior lebih berkembang ketika salah satu pemain Kolintang Kadoodan Alexander Katuuk pulang kampung dan melatih sekaligus mensponsori Grup yang kemudian terkenal dengan nama Tunas Kadoodan.

Beberapa Grup tanpa nama juga terbentuk yaitu grup dbp Bang Poluan, grup dbp. Yoseph Iwy Sundah dan lain-lain. Kolintang di Lembean terus berkembang dengan dibentuknya Grup-grup Kolintang Maleosan (dbp. Paultje Sundah), Komisi PSDD GMIM Karmel Lembean (Fransiskus Rorah dan Stien Kabahi), Sinar Kaki Dian (Luddy Wullur), Pratasik bersaudara (dbp. Chimin Pratasik), Yayasan Alfred Sundah – YAS (dbp. Linda Lubis Sundah) dan Prima Vista (dbp. Stave Tuwaidan) yang sering memenangkan pertandingan baik tingkat lokal Minahasa Utara, regional Sulawesi Utara bahkan tingkat nasional.

Katuuk juga menuturkan terkait produsen kolintang yang ada.

“Sejak dahulu bermunculan produsen kolintang yaitu Anton Luntungan (1930 an kayu wanderan), Vic Luntungan (1950 an kayu Wanderan), Hendrikus Songkiling (1950 an – 1980 an kayu wanderan khas kolintang kecil), Maxi Luntungan (1950 an – 2000 an kayu wanderan), Albert Runtunuwu (1960 an kayu wanderan), Yoseph Iwy Sundah (1960 an – 1990 an kayu wanderan), Bang Poluan (1970 an kayu wanderan), Anis Untu (2000 an kayu wanderan ), Luddy Wullur (1990 an – sekarang sesuai pesanan wanderan/cempaka), Stave Tuwaidan (2000 an – sekarang kayu cempaka) dan satu-satunya yang mempertahankan kolintang dari kayu wanderan adalah Nicodemus Songkiling (2000 an – sekarang),” jelas Katuuk sembari menambahkan jika itulah
asal usul Kolintang yang telah membuat harum nama Sulawesi Utara di tingkat nasional maupun di manca negara. (Alex/Josua)

 

 3,686 total views,  10 views today

One thought on “Ini Fakta Sejarah Asal Usul Kolintang Menurut Alexander Katuuk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *