80 Tahun Indonesia Merdeka, Warga Kampung Tarente Desa Tatampi di Pulau Nain Masih Hidup dalam Kegelapan, Masyarakat: “Kami Belum Merdeka”

oleh

 

Pulau Nain Desa Tatampi, Kampung Tarente, Jaga 4.
Pulau Nain Desa Tatampi, Kampung Tarente, Jaga 4.

Minahasa Utara, www.inspirasikawanua.com — Di tengah gegap gempita perayaan 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, sebuah ironi masih menyelimuti sudut negeri ini. Di Kampung Tarente, Jaga 4, Desa Tatampi, Pulau Nain, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara, sebanyak 38 kepala keluarga (KK) hingga hari ini belum menikmati aliran listrik dari pemerintah.

Kampung terpencil yang berada di wilayah pesisir di kawasan pulau terluar ini masih hidup dalam kegelapan, seakan luput dari perhatian pembangunan pemerintah. Ratusan jiwa yang tinggal di kampung tersebut terpaksa bergantung pada genset kecil, yang hanya bisa dibeli dan dioperasikan oleh warga yang mampu.

Bahkan untuk sekadar penerangan malam hari, warga harus merogoh kocek dalam-dalam guna membeli bensin setiap hari sebagai bahan bakar.

Baca juga:  Gubernur Olly Awali Impounding Bendungan Lolak, Sebut Untuk Irigasi Sawah dan Kendalikan Banjir

Tak hanya itu, keterbatasan listrik juga berdampak langsung pada penghidupan utama warga yang sebagian besar adalah nelayan. Mereka tidak memiliki lemari pendingin untuk menyimpan hasil tangkapan laut. Akibatnya, ketika hasil melimpah, ikan harus segera dijual ke Manado. Jika tidak, ikan akan cepat membusuk dan akhirnya dibuang — sebuah kerugian besar yang seharusnya bisa dihindari dengan akses listrik yang memadai.

Sekretaris Desa Tatampi, Jenet Salasa, membenarkan kondisi ini saat dikonfirmasi oleh media ini.

“Memang benar, sampai saat ini 38 kepala keluarga di Kampung Tarente belum menikmati listrik dari pemerintah. Kami sudah beberapa kali menyampaikan kondisi ini ke pemerintah kabupaten, namun sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” ungkap Jenet.

Baca juga:  Digelar Di JG Center Minut, Festival Kolintang Meriahkan Ibadah Pra Natal Pinkan Sulut

Ia menyebut, warga sangat berharap agar pemerintah memberikan perhatian serius terhadap kondisi ini.

“Harapan kami sangat besar agar warga di kampung ini bisa segera menikmati listrik. Kalau mengandalkan dana desa, jelas tidak cukup karena ada alokasi dan aturan penggunaan yang ketat,” tambahnya.

Di usia kemerdekaan yang ke-80, masyarakat Kampung Tarente merasa bahwa mereka belum sepenuhnya merdeka. Bagi mereka, kemerdekaan bukan sekadar upacara dan pengibaran bendera—melainkan akses terhadap hak dasar, salah satunya listrik.

Sebuah pertanyaan besar pun mengemuka: sampai kapan mereka harus terus hidup dalam kegelapan di negeri yang katanya sudah lama merdeka? (Josua)

Loading

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Inspirasi Kawanua di saluran WHATSAPP