
Minsel, www.inspirasikawanua.com – Aula Waleta Kantor Bupati Minahasa Selatan (Minsel) bergemuruh oleh tepuk tangan ribuan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) se-Minsel pada Selasa (5/5). Hari itu menjadi saksi dicanangkannya program revolusioner “Jaga Pemilihan Kepala Desa (Pilkades/Hukum Tua)”, sebuah langkah berani yang menjadikan Minsel sebagai barometer nasional untuk Pilkades yang jujur, berintegritas, dan bermartabat.
Kolaborasi unik antara Kejaksaan Tinggi Sulut, Pemkab Minsel, APBEDNAS Sulut, dan FISIP Unsrat Manado ini bertujuan untuk mengembalikan esensi demokrasi desa pada akarnya. Di tengah maraknya pesta demokrasi berbiaya tinggi, Minsel hadir dengan gebrakan yang mengedepankan integritas calon pemimpin desa di atas kemewahan kampanye.

Ketua DPD APBEDNAS Sulut, Ir. Stefanus B.A.N. Liow, dengan lantang menyerukan pentingnya Pilkades yang berkualitas dan bermartabat, mengembalikan semangat gotong royong “Mapalus” sebagai tolok ukur kepemimpinan. Langkah ini sejalan dengan visi “Asta Cita” Presiden Prabowo Subianto untuk membangun fondasi bangsa dari desa.
Kejaksaan Tinggi Sulut, melalui program “Jaga Desa, Jaga Dapur, dan Jaga Pilkades”, menegaskan komitmennya untuk menjadi mitra strategis desa, memastikan pembangunan berjalan tanpa rasa takut akan kriminalisasi. Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sulut, Jacob H. Pattipeilohy, berharap BPD menjadi garda terdepan dalam penyelesaian masalah hukum di desa.

Bupati Minsel, Franky Donny Wongkar (FDW), menyambut baik sinergi ini dan menekankan pentingnya relasi harmonis antara BPD dan Kepala Desa sebagai kunci menuju Desa Modern dan Desa Profesional. Stabilitas dan kerukunan selama Pilkades serentak diharapkan dapat memacu kemajuan ekonomi dan sosial desa.
Dekan FISIP Unsrat, Dr. Ferry Daud Liando, menyoroti pentingnya peraturan desa (Perdes) yang berkualitas sebagai fondasi kemandirian desa. Tanpa aturan yang kuat, potensi desa sulit dikelola secara optimal untuk kesejahteraan masyarakat.

Pencanangan “Jaga Pilkades” di Minsel bukan sekadar seremoni, melainkan janji kolektif untuk menjaga marwah desa. Minsel mengirimkan pesan kuat kepada Indonesia bahwa demokrasi terbaik lahir dari kolaborasi, kejujuran, dan semangat gotong royong yang tak pernah padam. (Fanly)
![]()





