Penataan Kota dan Permukiman di Wilayah Pesisir Yang Tanggap Terhadap Tsunami, Gelombang Ekstrim, Gelombang Laut Berbahaya Sebagai Bagian Mitigasi Bencana

oleh

Manado, Inspirasikawanua.com – Wilayah negara kepulauan Indonesia dengan panjang garis pantai yang mencapai 54.716 kilometer, tepat berada diantara Ring of Fire yang membentang dari Nusa Tenggara, Bali, Jawa, Sumatra, terus ke Himalaya, Mediterania dan berujung di Samudra Atlantik.

Hal ini menyebabkan Indonesia memiliki banyak gunung berapi aktif, yang terbentuk dalam zona subduksi lempeng Eurasia dan lempeng Indo-Australia.

Kondisi tersebut membuat Indonesia rentan akan bahaya gempa, yang bisa menimbulkan gelombang besar seperti tsunami.

Hampir semua pulau di Indonesia memiliki pemukiman baik itu desa hingga kota, sehingga diperlukan penataan Kota dan Permukiman di wilayah Pesisir yang tanggap terhadap Tsunami, Gelombang Ekstrim, Gelombang laut berbahaya sebagai bagian mitigasi bencana.

A. Pendahuluan (Préliminaire)
Tulisan ini fokus pada Gelombang Laut yang selanjutnya dalam penulisan ini disingkat GL dalam bidang oseanografi, ombak dikenal sebagai gelombang dalam (internal wave). Gelombang dalam oseanografi secara umum dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu gelombang permukaan dan gelombang internal. Gelombang permukaan adalah fenomena yang akan kita temui ketika mengamati permukaan air laut, dan biasa disebut sebagai ombak. Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya ombak adalah embusan angin, di samping ada pula faktor lain seperti pasang surut laut yang terjadi akibat adanya gaya tarik bulan dan matahari.

Tujuan penulisan ini untuk mengetahui arti penting dan implementasi GL dalam penataan kota dan permukiman tropis pesisir. Content Analysis dan Deskriptif Kualitatif adalah metode penulisan yang dilakukan.

B. Pembahasan (Discussion)
1. Definisi Wilayah Pesisir
Menurut Supriharyono (2000) wilayah pesisir adalah batas daratan dengan laut ke arah darat meliputi daratan kering maupun terendam air yang wilayahnya tersebut masih dipengaruhi sifat-sifat laut. Rabiatun (2012) menuturkan terdapat aktivitas teristrial di wilayah pesisir dan wilayah pesisir memiliki potensi sumberdaya alam, lapangan pekerjaan, memberikan kenyamanan. Nursari (2015) menyebutkan hal mendasar mengenai wilayah pesisir yaitu kajian biogenesik, kondisi ekonomi, kondisi sosial dan budaya, kelembagaan masyarakat, serta kebijakan.

Pesisir adalah daerah yang berada di tepi laut sebatas antara surut terendah dan pasang tertinggi dimana daerah pantai terdiri atas daratan dan perairan.

Pada daerah pantai masing-masing wilayah masih dipengaruhi oleh aktivitas darat (dilakukan di daerah perairan) serta aktivitas marine (dilakukan di daerah daratan), sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua daerah tersebut saling memiliki ketergantungan satu sama lain, atau dapat juga diartikan saling mempengaruhi (Kodoatie, 2010).

Batas pesisir berdasarkan Administrasi diatur dalam RTRW Kabupaten/Kota (UU No 26 tahun 2007 tentang penataan ruang) dan pesisir kelaut diatur dalam RZWP3K (UU No 27 tahun 2007 jo tambahan UU No 1 tahun 2014)  dulunya 4 mil kelaut merupakan kewenangan Kabupaten/Kota, sekarang tidak ada lagi pengelolaan 4 mil kewenangan Kabupaten/Kota tetapi menjadi kewenangan Provinsi hingga 12 mil ke arah laut.

2. Definisi, Klasifikasi dan Manfaat Gelombang Laut
a. Definisi Gelombang
Gelombang laut adalah bentuk permukaan laut yang berupa punggung atau puncak gelombang dan palung atau lembah gelombang oleh gerak ayun (oscillatory movement) akibat tiupan angin, erupsi gunung api, pelongsoran dasar laut, atau lalu lintas kapal (Sunarto, 2003). Gelombang laut memiliki dimensi yaitu periode gelombang, panjang gelombang, tinggi gelombang, dan cepat rambat gelombang.

Holthuijsen (2007) menjelaskan bahwa gelombang laut adalah pergerakan naik dan turunnya air laut dengan arah tegak lurus permukaan air laut yang membentuk kurva/grafik sinusoidal.

Gelombang yang terbentuk di laut dapat bermacam-macam bergantung pada gaya pembangkitnya. Gaya pembangkit tersebut antara lain tiupan angin yang membentuk gelombang angin, gaya tarik menarik benda langit terutama matahari dan bulan terhadap bumi yang membentuk gelombang pasang surut, letusan gunung api dan gempa di laut yang membentuk gelombang tsunami serta gaya pembangkit dari gerakan kapal (Triatmodjo, 1999). Dari beberapa gaya pembangkit gelombang tersebut, tiupan angin diatas permukaan laut adalah pembangkit gelombang yang utama. Gelombang ini selalu bergerak menimbulkan ayunan air pada lapisan permukaan laut yang jarang dijumpai dalam keadaan diam sama sekali. Pada cuaca yang tenang dengan hembusan angin sepoi-sepoi akan terbentuk riak gelombang, sedangkan pada hembusan angin yang lebih kencang seperti ketika badai akan terbentuk gelombang besar yang dapat menimbulkan kerusakan hebat pada kapal-kapal atau daerah-daerah pantai. Besar kecilnya gelombang yang terbentuk sangat dipengaruhi oleh kecepatan angin, waktu dimana angin sedang bertiup dan jarak tanpa rintangan dimana angina sedang bertiup/Fetch. Ketiga faktor tersebut berbanding lurus dengan besarnya gelombang yang terbentuk, dimana makin kecang anginnya, makin meningkat waktu serta makin besar Fetch-nya, maka makin besar pula gelombang yang akan terbentuk (Hutabarat dan Evans, 2012).

Ketinggian dan periode gelombang tergantung kepada panjang Fetch pembangkitannya. Fetch adalah jarak perjalanan tempuh gelombang dari awal pembangkitannya. Fetch ini dibatasi oleh bentuk daratan yang mengelilingi laut. Semakin panjang jarak Fetch-nya, ketinggian gelombangnya akan semakin besar. Angin juga mempunyai pengaruh yang penting pada ketinggian gelombang. Angin yang lebih kuat akan menghasilkan gelombang yang lebih besar.

b. Tipe Gelombang
Terdapat beberapa klasifikasi pada jenis gelombang laut, berikut penjelasanya.
1). Berdasarkan sifatnya
Ada 2 (dua) macam gelombang laut, diantaranya yaitu sebagai berikut :
• Gelombang Laut Pembangun / Pembentuk Pantai (Constructive Wave)
Gelombang ini merupakan suatu gelombang yang ketinggiannya itu kecil dan kecepatannya juga rendah. Pada saat gelombang tersebut pecah di pantai akan mengangkut sedimen (material pantai).
• Gelombang Laut Perusak Pantai (Destructive wave)
Gelombang ini merupakan gelombang laut dengan ketinggian serta juga kecepatan rambat yang besar. Pada saat gelombang ini menghantam pantai akan terdapat banyak volume air yang terkumpul serta juga mengangkut material pantai ke tengah laut.
2). Berdasarkan ukuran dan penyebabnya
Gelombang laut berdasarkan ukuran dan penyebabnya, yaitu :
• Gelombang kapiler (capillary wave)
Gelombang kapiler  adalah suatu gelombang yang biasa kita sebut dengan sebutan riak, gelombang kapiler tersebut mempunyai panjang gelombang sekitar 1,7 meter. Periode kurang dari 0,2 detik dan diakibatkan karena tegangan permukaan serta juga tiupan angin yang tidak terlalu kuat.
• Gelombang angin (seas/wind wave)
Gelombang ini adalah gelombang dengan panjang gelombang mencapai 130 meter, periode 0,2-0,9 detik, serta juga disebabkan oleh angin kencang.
• Gelombang Alun (Swell wave)
Gelombang ini merupakan suatu gelombang yang panjang gelombangnya itu dapat mencapai ratusan meter, periodenya itu sekitar 0,9 – 15 detik, dan juga disebabkan oleh angin yang bertiup lama.
• Gelombang Pasang Surut (Tidal Wave)
Gelombang pasang surut merupakan suatu gelombang yang panjang gelombangnya itu dapat mencapai beberapa kilometer, periodenya ini berada antara 5 – 25 jam. Serta disebabkan oleh fluktuasi gaya gravitasi matahari dan juga bulan.


Gambar 1. Klasifikasi Gelombang
c. Manfaat Gelombang
Berikut ini adalah manfaat dari gelombang laut ini, diantaranya yaitu:
• Menjaga kestabilan suhu dan juga iklim dunia
• Melalui permukaan ombak itu terjadi pertukaran gas
• Meningkatkan kemampuan adaptasi serta juga keanekaragaman makhluk hidup
• Membantu terbektuk serta terjaganya pantai

3. Penataan Kota dan Permukiman di wilayah Pesisir yang tanggap terhadap Tsunami, Gelombang Ekstrim, Gelombang laut berbahaya
a. Pengaruh Gelombang terhadap Wilayah Pesisir dan Pantai
Pada kondisi sesungguhnya di alam, pergerakan orbital di perairan dangkal (shallow water) dekat dengan kawasan pantai energi gelombang mampu mempengaruhi kondisi pantai.


Gelombang yang menjalar dari laut dalam (deep water) menuju ke pantai akan mengalami perubahan bentuk karena adanya perubahan kedalaman laut. Apabila gelombang bergerak mendekati pantai, pergerakan gelombang di bagian bawah yang berbatasan dengan dasar laut akan melambat. Ini adalah akibat dari friksi/gesekan antara air dan dasar pantai. Sementara itu, bagian atas gelombang di permukaan air akan terus melaju. Semakin menuju ke pantai, puncak gelombang akan semakin tajam dan lembahnya akan semakin datar. Fenomena ini yang menyebabkan gelombang tersebut kemudian pecah.
Seringnya wilayah pesisir diterpa gelombang mengakibatkan sedimentasi wilayah pesisir akibat dari friksi/gesekan antara air dan dasar pantai yang membawa pasir kearah daratan, itulah yang mengakibatkan terjadinya gundukan pasir di tepi pantai atau yang dikenal sebagai Gisik. Kejadian ini jika terjadi berulang-ulang dan dalam waktu yang cukup lama akan dapat merubah garis pantai.

Baca juga:  Ketua DPRD Sulut Sukses Pimpin Operasi Perdana Batu Empedu di RSUD ODSK

b. Pengaruh Gelombang terhadap penataan Kota dan Permukiman Pesisir
Pengaruh gelombang dan hidro-oceanografy lainnya di wilayah Kota dan Permukiman Pesisir pada dasarnya terkait dengan bencana. Sebagaimana yang tertuang dalam PP RI No. 64 Tahun 2010 Tentang Mitigasi Bencana di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, pasal 3 ayat 1 berbunyi : Bencana di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dapat diakibatkan karena : a). peristiwa alam; atau b). perbuatan orang. Kemudian dijelaskan juga dalam ayat 2 : Bencana yang diakibatkan karena peristiwa alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi jenis bencana : a). gempa bumi, b). tsunami, c). gelombang ekstrim, d). gelombang laut berbahaya, e). letusan gunung api, f). banjir, g). kenaikan paras muka air laut, h). tanah longsor, i). erosi pantai, j). angin puting beliung, dan k). Jenis bencana lainnya.
Dalam konteks saat ini terkait arti penting dan Implementasi Gelombang Laut terhadap penataan Kota dan Permukiman Pesisir, akan fokus ke : 1). Tsunami, 2). Gelombang Ekstrim, 3). Gelombang laut berbahaya, 4). Kenaikan paras muka air laut, dan 5). Erosi pantai.

1). Penataan Kota dan Permukiman Pesisir yang tanggap terhadap Tsunami, Gelombang Ekstrim, Gelombang laut berbahaya.

Tsunami, Gelombang Ekstrim dan Gelombang laut berbahaya disatukan dalam kelompok ini karena memiliki beberapa kemiripan. Istilah Tsunami berasal dari kosa kata Jepang Tsu yang berarti gelombang dan Nami yang berarti pelabuhan atau bandar. Awalnya tsunami berarti gelombang laut yang menghantam pelabuhan. Umumnya Tsunami terjadi karena adanya gerakan tektonik Gempa karena adanya patahan pada bagian dasar laut. Parameter gempa pemicu Tsunami bisa berasal dari gemoa di bawah laut, kedalaman gempa bumi kurang dari 10 Km di dasar laut, memiliki kekuatan 7 SR atau lebih, pergerakan lempeng tektonik terjadi secara vertical.

Gambar 2. Proses terjadinya tsunami

Dalam konteks penataan Kota dan permukiman pesisir yang tanggap bencana perlu adanya mitigasi bencana tsunami yang dapat dilakukan dengan beberapa upaya fisik. Idealnya bahaya dan dampak gelombang ekstrim, gelombang berbahaya dan atau tsunami implementasinya dalam bidang perancangan kota akan mengarahkan konsep mitigasi yang komprehensif, yaitu dengan mengombinasikan secara fisik dan non fisik.

Beberapa Konsep mitigasi perancangan kota yang dapat diterapkan :
 Sistem peringatan dini (early warning system). Sistem peringatan dini ini biasanya dikaitkan dengan alat/instrumen deteksi tsunami yang mampu secara cepat membaca kenaikan gelombang laut tiba-tiba yang disebabkan oleh gempa bumi.  Sistem Peringatan Dini (Early Warning System) merupakan serangkaian sistem untuk memberitahukan akan timbulnya kejadian alam, dapat berupa bencana maupun tanda-tanda alam lainnya. Peringatan dini pada masyarakat atas bencana merupakan tindakan memberikan informasi dengan bahasa yang mudah dicerna oleh masyarakat. Dalam keadaan kritis, secara umum peringatan dini yang merupakan penyampaian informasi tersebut diwujudkan dalam bentuk sirine, kentongan dan lain sebagainya. Namun demikian menyembunyikan sirine hanyalah bagian dari bentuk penyampaian informasi yang perlu dilakukan karena tidak ada cara lain yang lebih cepat untuk mengantarkan informasi ke masyarakat. Harapannya adalah agar masyarakat dapat merespon informasi tersebut dengan cepat dan tepat. Kesigapan dan kecepatan reaksi masyarakat diperlukan karena waktu yang sempit dari saat dikeluarkannya informasi dengan saat (dugaan) datangnya bencana. Kondisi kritis, waktu sempit, bencana besar dan penyelamatan penduduk merupakan faktor-faktor yang membutuhkan peringatan dini. Semakin dini informasi yang disampaikan, semakin longgar waktu bagi penduduk untuk meresponnya.
Keluarnya informasi tentang kondisi bahaya merupakan muara dari suatu alur proses analisis data-data mentah tentang sumber bencana dan sintesis dari berbagai pertimbangan. Ketepatan informasi hanya dapat dicapai apabila kualitas analisis dan sintesis yang menuju pada keluarnya informasi mempunyai ketepatan yang tinggi. Dengan demikian dalam hal ini terdapat dua bagian utama dalam peringatan dini yaitu bagian hulu yang berupa usaha-usaha untuk mengemas data-data menjadi informasi yang tepat dan menjadi hilir yang berupa usaha agar infomasi cepat sampai di masyarakat (http://dmcdd.net/sistem-peringatan-dini-early-warning-system/).
 Menghindar (Avoidance). Reaksi manusia terhadap potensi bencana gelombang laut yang paling banyak adalah dengan cara menghindar, yaitu dengan cara tidak membangun dan menempatkan bangunan di tempat-tempat yang berpotensi terkena bencana gelombang laut.
 Stabilisasi (Stabilization). Beberapa bencana alam dapat diseimbangkan dengan menerapkan rekayasa keteknikan, seperti misalnya di daerah-daerah yang berlereng dan berpotensi longsor akibat hempasan gelombang ekstrem, yaitu dengan cara membuat kemiringan lereng menjadi landai dan stabil sehingga kemungkinan longsor menjadi kecil, atau bangunan yang akan didirikan menggunakan pondasi tiang pancang sampai ke bagian lapisan tanah yang stabil.
 Penetapan Persyaratan Keselamatan Struktur Bangunan (Provision for safety in structures). Dalam banyak kasus bangunan yang akan didirikan di tempat-tempat yang berpotensi terkena dampak gelombang, maka struktur bangunan harus dirancang dengan memperhitungkan keselamatan jiwa manusia, yaitu dengan struktur panggung guna menghindari terpaan gelombang. Dalam desain bangunan juga harus memiliki struktur kuat sehingga tahan terhadap goncangan gempa. Rumah panggung baik terbuat dari kayu maupun beton bisa menjadi alternatif karena tidak mudah roboh oleh terjangan tsunami. Usahakan arah orientasi bangunan tegak lurus dengan garis pantai sehingga sejajar dengan arah perambatan gelombang tsunami.
 Pembatasan penggunaan lahan dan penempatan jumlah jiwa (Limitation of land-use and occupancy). Jenis peruntukan lahan, seperti lahan pertanian atau lahan pemukiman dapat dilakukan dengan cara membuat peraturan peraturan yang berkaitan dengan potensi bencana yang mungkin timbul. Penempatan jumlah jiwa per hektar dapat disesuaikan untuk mengurangi tingkat bencana.
 Bangunan peredam tsunami. Upaya fisik lainnya yang bisa dilakukan adalah penggunaan bangunan peredam tsunami seperti dike (tanggul) atau breakwater (pemecah ombak). Upaya Mitigasi ini ini butuh ongkos tinggi namun cocok dan efektif untuk melindungi kota dan permukiman pesisir akibat bahaya tsunami.
 Cara Alami. Upaya alami juga bisa dilakukan dengan menanam berbagai pohon seperti mangrove, kelapa, ketapang, cemara laut, waru laut, dan lain-lain. Upaya ini tergolong murah dan terbukti efektif dalam meredam kekuatan tsunami yang merambat hingga ke daratan.
 Shelter dan bukit buatan. Sedangkan untuk kawasan yang padat penduduknya dan jauh dari bukit, perlu dibuat shelter. Bangunan ini sebaiknya bertingkat dan terbuat dari beton yang kokoh sehingga tahan terhadap gempa dan tsunami.  Bentuk adapatif juga dalam penataan ruang pesisir bisa dibangun bukit buatan (artificial hill). Tujuannya, untuk menyelamatkan diri atau sebagai tempat evakuasi sewaktu terjadi tsunami. Bukit ini bisa dibuat dari urungan tanah dengan system terasering sehingga dapat diakses dari berbagai arah. Tinggi shelter dan bukit buatan itu disesuaikan berdasarkan tinggi maksimum kemungkinan tsunami menjangkau lokasi tersebut. Selain itu, bukit buatan dan shelter itu diusahakan bisa ditempuh oleh warga kurang dari 15 menit. Untuk memprediksi waktu kedatangan tsunami bisa digunakan beberapa software pendukung seperti Tunami N2.

Baca juga:  Soft Opening Dan Grand Launching Tiwoho Mangrove Trail Sukses Digelar

Gambar 3. Model perhitungan Software Tunami N2

 Bangunan Evakuasi. Dalam hal untuk menghadapi potensi bencana geologi (gempabumi dan tsunami), disamping mengembangkan jalan eksisting dan menambah jalan baru sebagai jalur penyelamatan ke lokasi yang aman, jika perlu juga dibangun suatu bangunan yang cukup tinggi sebagai tempat untuk menampung dan evakuasi apabila terjadi gelombang tsunami.
 Zonasi pemanfaatan ruang dan Peraturan bangunan (Building code). Zonasi pemnafaatan ruang merupakan cara di atas kertas yang sangat optimal saat ini untuk dapat mengatur suat kawasan agar dapat meminimalisir dampak bencana gelombang laut. Zonasi diatur lewat analisis yang memaksimalkan daya dukung lingkungan yang ada. Mengingat kawasan dataran pesisir pada umumnya disusun oleh batuan/material yang bersifat lepas (unconsolidated material) maka peraturan bangunan wajib dipenuhi sebelum dilaksanakan pembangunan. Beberapa hal terkait dalam zonasi ini sebagai berikut :
 Menetapkan peruntukan ruang wilayah yang mempunyai tingkat kerentanan terhadap potensi bahaya berdampak gelombang laut.
 Menetapkan peruntukan ruang untuk keperluan berbagai fungsi ruang, baik peruntukan ruang bagi pemukiman, pendidikan, kesehatan, ruang publik dan evakuasi serta infrastruktur yang memadai yang berguna terutama dalam proses evakuasi dan tindakan penyelamatan apabila terjadi bencana.
 Melaksanakan dan menetapkan wilayah rentan terhadap bahaya dampak Tsunami, Gelombang Ekstrim, Gelombang laut berbahaya, dengan cara membuat peta mikrozonasi yang akan menjadi acuan di dalam pembuatan dan penetapan peraturan mengenai kontruksi bangunan (building code).
 Menetapkan, mengawasi, dan melaksanakan secara konsisten dan konsekuen semua peraturan yang berkaitan dengan kode bangunan.
 Penetapan garis sempadan bangunan yang berada di kawasan pesisir
 Melaksanakan dan menetapkan wilayah rentan terhadap bahaya tsunami, dengan cara membuat peta zona bathymetry hingga ke arah pesisir dan bagian dataran hingga ketinggian 20 meter diatas muka air laut yang akan menjadi acuan di dalam pembuatan dan penetapan peraturan daerah mengenai zonasi kerentanan terhadap tsunami.
 Melaksanakan dan menetapkan wilayah rentan terhadap bahaya kenaikan paras muka air laut dan Erosi pantai baik tahunan, lima tahunan, sepuluh tahunan, hingga 25 tahunan dan disertai dengan peraturan yang berkaitan dengan konstruksi bangunan dan infrastruktur lainnya.
 Garis sempadan pantai. Garis sempadan pantai perlu diatur dan ditetapkan menjadi suatu peraturan, mengingat potensi abrasi air laut terhadap garis pantai akan berpengaruh terhadap keberadaan garis pantai yang ada.

2). Penataan Kota dan Permukiman Pesisir yang tanggap terhadap Kenaikan paras muka air laut dan Erosi pantai.

Kenaikan paras muka air laut dan Erosi pantai disatukan bahasannya juga karena memiliki kemiripan. Dalam konteks penataan kota dan permukiman pesisir yang tanggap terhadap bencana pesisir akibat kenaikan permukaan air laut implementasinya juga pada penataan kawasan pesisir. Beberapa implementasi penataan diantaranya : yang pertama, penataan kota dan permukiman peisisr dengan pola protektif yaitu dengan membuat bangunan pelindung pantai yang mampu mencegah air laut agar tidak merengsek ke darat. Pola tersebut bertujuan melindungi pemukiman, industri wisata, jalan raya, daerah pertanian, dan lain-lain dari genangan air laut. Pola ini memang memerlukan biaya yang cukup mahal. Namun demikian pola ini cocok diterapkan untuk melindungi sarana-prasarana di kawasan pesisir. Pola protektif lain yang dapat ditempuh adalah dengan melakukan restorasi melalui peremajaan pantai dan rehabilitasi mangrove (vegetasi pantai). Cara restorasi dengan peremajaan pantai (beach nourishmat) merupakan alternative yang sudah cukup lama dikenal. Proses ini meliputi pengambilan material dari tempat yang tidak membahayakan dan diisikan ke tempat yang membutuhkan. Lahan hasil timbunan ini kemudian bisa ditanami mangrove sehingga dapat mencegah air laut merengsek ke darat. Cara ini cocok untuk antisipasi kenaikan muka air laut. Kedua, pola adaptif, yakni menyesuaikan penataan dan pengembangan pesisir terhadap kenaikan muka air laut. Salah satu contohnyas adalah penggunaan konstruksi bangunan yang beradaptasi pada kenaikan muka air laut. Rumah-rumah model di tepi pantai dibuat model panggung agar aman dari genangan air laut, terutama pada waktu air laut pasang seperti model rumah panggung Minahasa. Ketiga, pola mundur (retreat) yang bertujuan menghindari genangan dengan cara merelokasi (memindahkan) permukiman agar tidak terjangkau air laut akibat kenaikan permukaan air laut.

C. Kesimpulan (Conclusion)
Penulisan ini dapat disimpulkan Penataan Kota dan Permukiman di wilayah Pesisir yang tanggap terhadap Tsunami, Gelombang Ekstrim, Gelombang laut berbahaya sebagai berikut :
1. Terdapat 3 metoda untuk mengurangi potensi dampak Tsunami, Gelombang Ekstrim, Gelombang laut berbahaya yaitu :
a. Rekayasa keteknikan,
b. Kebijakan tataguna lahan dan regulasi,
c. Sistem peringatan dini
2. Dalam konteks mitigasi bencana aspek-aspek Gelombang Ekstrim, Gelombang laut berbahaya, Kenaikan paras muka air laut, Erosi pantai dan atau Tsunami, terimplementasi sebagai data utama yang akan memberi info penting terkait pola, pergerakan gelombang dan wilayah yang sering diterjang gelombang sekaligus sebagai variabel dan atau parameter dalam tahapan analisis.
3. Data-data terkait Gelombang laut dalam penataan kota dan Permukiman pesisir juga akan memberi informasi kawasan-kawasan mana di tepian pantai/pesisir yang sering diterjang gelombang dan wilayah yang berdampak akibat terjangan Gelombang Ekstrim, Gelombang laut berbahaya dan bahkan tsunami ini. Sehingga desain dan perletakan barrier fisik seperti konstruksi break water dan atau alami berupa penanaman mangrove akan dapat dengan mudah ditentukan. Ini akan meminimalisir resiko salah perancangan dan kerugian akan dapat dihindari sejak awal.
4. Implementasi dalam penataan kota dan Permukiman pesisir berbasis mitigasi  bencana yang terfokus ke dampak tsunami, dimasa kini lewat software pendukung sperti Tunami N2 akan dapat memprediksi jarak dan waktu sampainya gelombang tsunami di permukiman, sehingga akan memberi informasi ruang dan waktu untuk dilakukan evakuasi.
5. Secara umum penataan kota dan Permukiman pesisir berbasis mitigasi  bencana lewat parameter-parameter yang ada melalui analisis spasial outputnya akan dapat meghasilkan peta kawasan pesisir rawan bencana dan atau peta kawasan yang aman dari bencana. Dengan diketahuinya space secara spasial akan memudahkan perancang kota untuk merumuskan strategi penataan pesisir yang tanggap dan adaptif terhadap bencana baik melalui penataan secara fisik (alami dan non alami) dan non fisik di kawasan pesisir. (Disusun oleh : Hendrik S. Suriandjo (S1 Arsitek, S2 Perancangan Kota Tropis Pesisir)
Mahasiswa Angkatan 2020 Program Studi S3 : Doktor Ilmu Kelautan ,FPIK Unsrat Manado.
Konsentrasi : Pengelolaan Pesisir Terpadu dan Ekowisata Bahari
Tugas Mata Kuliah : OCEANOLOGY
Dosen Penanggung Jawab : Prof. Dr. Ir. Cyska Lumenta, DEA

Daftar Pustaka (Bibliographie)

Hutabarat, S. dan Evans, S.M. (2012), Pengantar Oseanografi. Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press), Jakarta.
Holthuijsen, L.H. 2007. Waves in oceanic and coastal waters. Cambridge University Press. US. 200p.
Kodoatie, Robert J. dan Sjarief, Roestam. (2010). Tata Ruang Air. Penerbit Andi, Yogyakarta.
Nursari. 2015. “Hubungan Pola Persebaran Permukiman dengan Karakteristik Airtanah di Wilayah Kepesisiran Kabupaten Kulon Progo”. Tesis. Yogykarta : Universitas Gadjah Mada.
Peraturan Pemerintah RI No. 64 Tahun 2010 Tentang Mitigasi Bencana di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
Rabiatun. 2012. “Analisis Kesesuaian Pemanfaatan Ruang Permukiman Kawasan Pesisir Kota Medan”. Tesis. Sumatera Utara : Universitas Sumatera Utara.
Sunarto. 2003. Peranan Dekomposisi Dalam Proses Produksi Pada Ekosistem Laut. Diakses pada tanggal 5 Juni 2008
Supriharyono. 2000. Pelestarian dan Pengelolaan Sumber Daya Alam di Wilayah Tropis. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Triatmodjo, Bambang. (1999), Teknik Pantai. Beta Offset, Yogyakarta.

https://id.wikipedia.org/wiki/Ombak, (diakses pada Kamis, 26 Novemer 2020, Pukul 09.00)

http://dmcdd.net/sistem-peringatan-dini-early-warning-system/ (diakses pada Kamis, 26 Novemer 2020, Pukul 10.00)

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *