
Minahasa utara, www.inspirasikawanua.com – Wilayah Likupang telah ditetapkan sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) dan juga menjadi kawasan ekonomi khusus pariwisata oleh pemerintah pusat.
Tapi belakangan ini terpantau, sudah beberapa kali terjadi bencana alam seperti banjir dan longsor di wilayah Likupang. Hampir setiap hujan dengan curang hujan sedikit lama sudah langsung terjadi banjir dan tanah longsor.
Banyak status dan postingan yang mempertanyakan terkait sudah seringnya terjadi banjir di wilayah Likupang. Bahkan sempat ada yang menyenggol keberadaan Tambang yang menjadi dugaan dampak dari banjir dan longsor tersebut.
Berangkat dari cerita-cerita tentang bencana banjir di Likupang. Pagi ini Senin (8/4/2024) saat di dapur sambil ngopi-ngopi.
Orang tua kami yang kebetulan lahir dan besar di wilayah Kecamatan Likupang Timur tepatnya Kampung Kijang, Desa Likupang Satu, Kabupaten Minahasa Utara, 52 tahun silam.
Ibu Ninang Bindura yang saat ini berdomisili dengan kami di Wilayah Kecamatan Kauditan menceritakan masa kecilnya yang tinggal di Kampung Kijang. Ia sempat menyebut jika memang dulu sekitar tahun 80an pernah sekali wilayah Likupang mengalami bencana alam banjir.
“Dulu Ade, wilayah Likupang Timur pernah banjir besar itu dulu waktu mama umur 8 tahun kalo nda salah sekitar tahun 80an itu. Setelah itu tidak ada banjir, sampe-sempe belakangan ini mama sering sekali dengar dengan dapat kabar kalo Likupang sana sering banjir kalo setiap ujang sedikit lama,” kata Ibu Ninang.
Beberapa masyarakat juga menyebutkan jika memang kita tau bersama memang bencana alam tidak bisa di prediksi, tapi sedikit ada kejanggalan, wilayah hutan di Likupang sudah banyak yang mulai gundul, apalagi tidak bisa dipungkiri kehadiran tambang di Likupang yang kegiatannya banyak bersentuhan dengan alam dalam hal ini hutan, bisa saja menjadi dugaan penyebab keseringan banjir di wilayah Likupang.
“Banjir Likupang diduga akibat eksplorasi Tambang MSS/TTN,” ujar Maikel masyarakat Likupang.
Tetapi dalam setiap bencana yang terjadi di wilayah Likupang apalagi longsor pihak Tambang selalu mengirimkan bantuan seperti alat berat.
Namun dalam hal ini masyarakat hanya bisa meminta Pemerintah untuk dapat mencarikan solusi agar banjir tidak berlarut-larut. Dan tidak juga mendiskreditkan pihak Tambang, karena saat ini ribuan tenaga kerja nasibnya bergantung disana.
Ditambahkan, jika masalah ini harus ada solusi agar tidak ada yang dirugikan, banjir bisa teratasi, masyarakat tidak mengalami kesusahan akibat kerugian karena banjir dan longsor, pekerja tambang aman dan sejahtera, Pemerintah bisa fokus dengan pembangunan pelayanan masyarakat yang lain dan Pemerintah Kecamatan juga desa bisa sedikit mengurangi beban tugasnya. (Josua)
![]()





