
SULUT, www.inspirasikawanua.com – Awal kepemimpinan Michaela E. Paruntu (MEP) dalam menukangi Partai Golongan Karya (GOLKAR) Sulawesi Utara (Sulut), nampaknya sangat berpotensi menimbulkan gesekan. Hasil rapat pleno yang menggaungkan ‘Bertanding untuk Bersanding’, justru bakal bermuara pada koyaknya soliditas yang sudah terbangun selama ini.

Diketahui, situasi yang menjurus tak kondusif ini disebut-sebut tidak lepas dari keputusan yang dianggap otoriter MEP, yakni mengeluarkan surat keputusan (SK) Pelaksana Tugas (Plt) untuk tiga kabupaten kota yakni Kabupaten Minahasa, Kota Tomohon dan Kepulauan SITARO.

Langkah ini dianggap teledor karena menabrak ketentuan partai yakni Petunjuk Pelaksana (Juklak) tertanggal 25 April 2025 dan Instruksi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) 15 Mei 2025. Tidak heran jika kemudian sejumlah pihak menyayangkan keputusan yang dianggap berlandaskan dendam itu.
“Saya kira semangat bertanding untuk bersanding merupakan semangat yang sudah tepat sekali dalam memulai langkah baru partai Golkar di bawah kepemimpinan Ibu MEP, namun dengan adanya keputusan menunjuk tiga pelaksana tugas, bagi saya ini menjadi pintu masuk menuju perpecahan di tubuh partai,” kecam Wakil Ketua Bidang Umum DPD II Golkar SITARO, Irwan Makikama, Selasa (12/10/2026).
Di satu sisi, ini juga jadi preseden buruk terhadap kepemimpinan MEP yang dinilai tak patuh terhadap instruksi partai. Dan jika ini tidak segera diperbaiki, maka bukan tidak mungkin partai Golkar akan jalan di tempat atau justru mengulangi sejarah kelam kepemimpinan sebelumnya di antaranya, tergerusnya perolehan kursi di Parlemen.
“Khusus untuk DPD II SITARO misalnya, seharusnya DPD I melakukan pertimbangan terhadap capaian yang sudah dibuat oleh Pak Ketua ART (Alfrets Ronald Takarendehang), mulai dari memenangkan ibu CEP di DPR RI, memenangkan YSK-Victory di Pilgub kemarin di mana perolehan suaranya masuk tiga besar di Sulut serta yang tidak kalah istimewa adalah menjadi satu-satunya Ketua Golkar di Sulut yang mampu merebut kursi bupati,” ujar Makikama.
“Jangan sampai juga diabaikan hal ini, yakni keberhasilannya mendongkrak perolehan kursi di DPRD SITARO serta memenangkan istrinya di Pilcaleg untuk DPRD Sulut, yang kini menempati kursi Ketua Bapemperda,” sambungnya.
Harusnya, sambung dia lagi, prestasi yang dibuat ART patut dibarengi dengan apresiasi bukannya justru menerima hasil keputusan yang terkesan semena-mena. Oleh karena itu, ia kembali mengingatkan DPD I Golkar Sulut untuk tidak main api dengan mengeluarkan keputusan-keputusan yang memantik terkoyaknya soliditas, apalagi sampai bertabrakan dengan ketentuan partai termasuk di dalamnya Juklak dan Instruksi DPP.
“Saya yakin partai Golkar adalah partai yang dewasa, sehingga dalam kepemimpinan pun saya harap harus punya kedewasaan berpikir dan bertindak. Kalau pun tiga kader yang di-Pltkan berseberangan di Musda kemarin (Pendukung THL), maka kedewasaan berpolitik adalah merangkul bukan balas dendam,” kuncinya. (Josua)
![]()





