
Minahasa Utara, www.inspirasikawanua.com – Suasana haru dan bangga menyelimuti Desa Paputungan, Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara, Sabtu (25/10/2026). Di tengah perayaan Hari Ulang Tahun ke-104 desa, sebuah simbol baru akhirnya berdiri kokoh di pintu masuk kampung: gapura selamat datang yang lahir dari ketulusan dan gotong royong masyarakatnya sendiri.
Gapura itu bukan sekadar bangunan beton yang menyambut setiap langkah yang datang. Ia adalah wujud nyata cinta anak negeri kepada tanah kelahiran. Dibangun dari swadaya masyarakat, karya ini menjadi bukti bahwa kebersamaan mampu mengalahkan segala keterbatasan.
Di balik berdirinya gapura tersebut, ada kerja keras komunitas Paputungan Bersatu serta pengorbanan sejumlah anak rantau asal Paputungan. Mereka dengan rela merogoh kantong pribadi, membuka donasi, dan menggerakkan solidaritas demi satu tujuan: menghadirkan identitas yang membanggakan bagi desa tercinta.

Bagi masyarakat Paputungan, gapura ini memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ia adalah simbol harga diri, jati diri, sekaligus penghormatan kepada para leluhur yang telah merintis desa hingga berkembang seperti sekarang. Setiap ornamen yang berdiri seakan berbisik tentang sejarah, perjuangan, dan harapan yang tak pernah padam.
Peresmian gapura ditandai dengan pengguntingan pita oleh Camat Likupang Barat, Maikel Parengkuan, SSTP, didampingi Hukum Tua Desa Paputungan, Rustan Devie Tatumang, bersama komunitas Paputungan Bersatu dan masyarakat. Momen itu disambut tepuk tangan dan mata yang berkaca-kaca—sebuah tanda bahwa perjuangan panjang akhirnya berbuah manis.
Dalam sambutannya, Camat Likupang Barat menyampaikan pesan yang menyentuh hati seluruh warga. Ia mengingatkan bahwa kekuatan terbesar Paputungan terletak pada persaudaraan.
“Gapura ini bukan hanya pintu masuk desa, tetapi pintu masuk bagi semangat kebersamaan kita. Jangan sampai kita terkotak-kotak oleh perbedaan yang justru melemahkan kita. Saya percaya, hampir semua masyarakat Paputungan adalah keluarga. Karena itu, mari kita jaga kerukunan ini seperti kita menjaga rumah kita sendiri,” ujarnya dengan penuh penekanan.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus berjalan seiring dengan program pemerintah, baik di tingkat pusat, daerah, maupun desa, demi kemajuan bersama.
Usai peresmian, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan ibadah syukur di pesisir pantai Desa Paputungan yang dipimpin oleh Pendeta Marthin Sumampouw, S.Th. Dalam suasana sederhana namun khidmat, doa-doa dipanjatkan sebagai ungkapan terima kasih atas berkat dan penyertaan Tuhan bagi perjalanan desa selama 104 tahun.
Sementara itu, Ketua Panitia, KS Kanine bersama Bendahara Richard Mukau saat dihubungi terpisah, dalam penyampaiannya mereka tak mampu menyembunyikan rasa haru dan bangga atas kerja bersama yang telah terwujud.
“Gapura ini adalah bukti bahwa ketika kita bersatu, tidak ada yang mustahil. Ini bukan tentang siapa yang memberi paling banyak, tetapi tentang ketulusan setiap hati yang terlibat. Kami ingin gapura ini menjadi pengingat bagi generasi mendatang bahwa desa ini dibangun dengan cinta, pengorbanan, dan kebersamaan,” ungkap keduanya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh masyarakat, pemerintah desa, serta anak-anak rantau yang telah memberikan kontribusi nyata.
“Semoga apa yang kita bangun hari ini bukan hanya berdiri kokoh secara fisik, tetapi juga memperkuat persaudaraan kita selamanya,” tutupnya.
Hari itu, Paputungan tidak hanya meresmikan sebuah gapura. Ia meresmikan harapan baru—bahwa selama kebersamaan tetap dijaga, desa kecil ini akan terus berdiri tegak, penuh kebanggaan, menyambut masa depan dengan kepala tegak dan hati yang satu. (Josua)
![]()





