Bupati Minahasa Selatan Terima Kunjungan YSYS, Sinergi Konservasi Yaki Diperkuat dengan Program Berbasis Budaya dan Pendidikan  

oleh

Minsel, www.inspirasikawanua.com – Kantor Bupati Minahasa Selatan menjadi tempat pertemuan strategis antara Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan yang dipimpin oleh Bupati Franky Donny Wongkar, S.H., dengan Yayasan Selamatkan Yaki Sulawesi (YSYS). Kunjungan tersebut tidak hanya sekadar audiensi resmi, melainkan juga menjadi tonggak penting dalam memperkuat kolaborasi konservasi primata endemik Sulawesi yang berstatus sangat kritis, yaki (Macaca nigra).

Dalam pertemuan yang diisi dengan berbagai pemaparan mendalam tersebut, YSYS memperkenalkan Ketua Baru yayasan yang juga merupakan ahli konservasi ternama, Dr. Khouni Lomban Rawung. Hadirnya Dr. Khouni membawa semangat baru dalam upaya melindungi satwa yang telah menjadi ikon kebanggaan masyarakat Sulawesi Utara ini.

“Kita tidak hanya berbicara tentang melestarikan spesies, tapi juga bagaimana yaki bisa menjadi jembatan untuk memperkuat identitas budaya dan kesadaran lingkungan generasi muda kita,” ujar Dr. Khouni Lomban Rawung dalam sambutannya.

Dikenalkan pula bahwa Yayasan Selamatkan Yaki Sulawesi berdiri sejak tahun 2007, awalnya sebagai program konservasi yang digagas oleh Wild Planet Trust dari Inggris. Seiring berjalannya waktu, YSYS berkembang menjadi organisasi nirlaba yang fokus pada empat pilar utama: penelitian ilmiah, pendidikan lingkungan, pemberdayaan masyarakat, serta kemitraan multisektoral dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan. Pendekatan terpadu ini dirancang untuk memastikan bahwa populasi yaki tidak hanya bertahan hidup, melainkan juga berkembang pesat di habitat alaminya, sekaligus menjadikan yaki sebagai simbol kebanggaan bersama masyarakat Sulawesi Utara.

Salah satu poin penting yang disampaikan dalam pertemuan adalah perkembangan pelaksanaan Program Yaki Pride Campaign yang telah berjalan di Kabupaten Minahasa Selatan. Program yang diluncurkan beberapa waktu lalu telah menunjukkan hasil yang sangat menggembirakan. Beberapa aktivitas yang telah berhasil dilaksanakan meliputi serangkaian sosialisasi yang menyentuh berbagai tingkatan pendidikan, khususnya di tingkat SMA/SMK se-Kabupaten Minahasa Selatan. Tak hanya itu, edukasi intensif juga diberikan kepada masyarakat yang tinggal di kawasan sekitar Suaka Margasatwa Manembo-Nembo, yang menjadi salah satu habitat penting bagi yaki di wilayah ini.

Salah satu program unggulan yang mendapatkan apresiasi tinggi adalah penyelenggaraan Yaki Youth Camp yang diikuti oleh sebanyak 48 pelajar dari berbagai SMA/SMK/MA di Minahasa Selatan. Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan tentang konservasi, tapi juga membentuk karakter pemuda sebagai agen perubahan dalam melindungi satwa liar.

“Tidak berhenti sampai di situ, mulai bulan Juli 2026 mendatang kita akan memperluas cakupan kegiatan sosialisasi ke seluruh jenjang pendidikan SMP serta menjangkau pasar tradisional sebagai pusat aktivitas masyarakat,” jelas Reyni Palohoen, Manajer Yayasan Selamatkan Yaki Sulawesi.

Baca juga:  "Tol Langit" Palapa Ring Diresmikan Presiden Jokowi, Wagub Kandouw : Indonesia Mampu Bersaing Di Era Industri 4.0 Dan Tunjang Pariwisata Sulut

Rencana besar yang akan diwujudkan YSYS hingga November 2026 antara lain penyelenggaraan Yaki Exhibition yang akan menampilkan berbagai aspek tentang kehidupan yaki, hasil penelitian terkini, serta produk-produk kreatif berbasis tema konservasi yang dibuat oleh masyarakat lokal. Selain itu, juga akan dilaksanakan berbagai program konservasi lainnya yang melibatkan berbagai elemen masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama, dibahas pula langkah konkrit untuk memperkuat dukungan Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan terhadap konservasi yaki. Salah satunya adalah imbauan khusus kepada masyarakat agar tidak mengonsumsi satwa liar menjelang musim Pengucapan Syukur, yang seringkali menjadi periode di mana perdagangan dan konsumsi satwa liar meningkat. 

Selain itu, juga dibahas tentang penguatan implementasi Instruksi Bupati Minahasa Selatan Nomor 65 Tahun 2025 tentang Perlindungan Monyet Yaki (Macaca nigra) dan Satwa Liar Dilindungi Lainnya. Instruksi ini menjadi landasan hukum penting dalam memberikan perlindungan yang lebih kuat bagi yaki dan satwa liar lainnya di wilayah Minahasa Selatan. 

“Kita harus memastikan bahwa setiap peraturan yang dibuat dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat nyata bagi kelestarian alam kita. Instruksi Bupati ini bukan hanya sekadar tulisan kertas, tapi harus menjadi pedoman yang hidup dalam setiap tindakan kita,” ujar Asisten Perekonomian dan Pembangunan Frangky Tangkere, S.P., M.Si., yang turut hadir dalam pertemuan.

Dalam pemaparan ilmiahnya, tim peneliti YSYS juga menyampaikan kondisi populasi yaki terkini di wilayah Minahasa Selatan. Hasil survei dan penelitian yang dilakukan di Hutan Lindung Gunung Lolombulan mencatat adanya 85 individu yaki yang terbagi dalam delapan kelompok sosial yang berbeda. Populasi ini tersebar di beberapa kecamatan strategis yaitu Kecamatan Amurang Barat, Motoling Timur, Ranoyapo, dan Modoinding. Data ini menjadi dasar penting dalam menyusun kebijakan dan program konservasi yang lebih terarah dan efektif. 

Salah satu bagian yang paling menarik dalam pertemuan adalah pengenalan pendekatan konservasi berbasis budaya melalui tradisi Mawolay dari Desa Poopo. Tradisi yang awalnya memiliki makna budaya tertentu ini telah mengalami transformasi yang luar biasa dan kini menjadi simbol penting dalam gerakan pelestarian yaki sekaligus pelestarian budaya lokal. Hal ini menunjukkan bahwa konservasi alam tidak harus bertentangan dengan pelestarian budaya, melainkan bisa saling melengkapi dan memperkuat satu sama lain.

“Tradisi Mawolay adalah bukti nyata bahwa masyarakat lokal memiliki kecerdasan lokal yang luar biasa dalam menjaga keseimbangan alam. Kita hanya perlu menguatkan dan mengembangkannya agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman sekarang,” papar Purnama Nainggolan, S.P., salah satu pengurus YSYS.

Baca juga:  Kunjungi Sulut, Jokowi Di Sambut Gubernur Olly

Pertemuan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara tiga pihak penting yaitu Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan, Yayasan Selamatkan Yaki Sulawesi, dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Kedua institusi tersebut menyampaikan apresiasi yang mendalam atas komitmen yang telah diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan sejak tahun 2024.

Minahasa Selatan bahkan dinilai sebagai salah satu pemerintah daerah paling aktif dan progresif dalam mendukung konservasi yaki di Sulawesi Utara. Beberapa langkah konkret yang telah diambil antara lain penyelenggaraan Deklarasi “Beking Sulut Bangga” yang menjadi tonggak penting dalam penguatan kesadaran masyarakat, serangkaian sosialisasi yang menjangkau pasar tradisional sebagai tempat berkumpulnya masyarakat, serta stakeholder meeting bersama para Camat se-Kabupaten Minahasa Selatan untuk menyamakan persepsi dan langkah dalam melindungi yaki.

Tak hanya itu, penerbitan Instruksi Bupati yang telah disebutkan sebelumnya serta perluasan program edukasi ke berbagai sekolah pada tahun 2026 telah memberikan hasil yang luar biasa, di mana berhasil membentuk sebanyak 50 Duta Yaki yang siap menjadi agen pelestarian lingkungan di lingkungan masing-masing.

Hadir dalam pertemuan yang penuh makna tersebut tidak hanya pihak YSYS dan Bupati Minahasa Selatan, melainkan juga berbagai perwakilan penting lainnya. Di antaranya Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Rommy Rumagit, S.Sos., yang akan berperan penting dalam penegakan peraturan terkait perlindungan satwa liar, serta Kepala Bagian Sumber Daya Alam Frany Tilaar, S.P., M.Si., yang menjadi ujung tombak dalam pengelolaan sumber daya alam di Kabupaten Minahasa Selatan.

“Kita yakin bahwa dengan kerja sama yang erat dan komitmen yang kuat dari semua pihak, kita dapat mewujudkan masa depan yang lebih baik bagi yaki dan ekosistemnya. Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau yayasan, tapi tanggung jawab bersama seluruh masyarakat Minahasa Selatan,” pungkas Bupati Franky Donny Wongkar, S.H., dalam penutup pertemuan.

Dengan berbagai langkah strategis dan komitmen yang telah diwujudkan, diharapkan konservasi yaki di Minahasa Selatan dapat memberikan hasil yang maksimal, sehingga primata endemik ini tidak hanya dapat bertahan hidup, melainkan juga menjadi sumber kebanggaan dan kesejahteraan bagi masyarakat lokal di masa depan yang lebih panjang. (Fanly)

Loading

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Inspirasi Kawanua di saluran WHATSAPP