Merasa Terzolimi, Kumtua Kaima Bernadus Togas Sebut Surat Pemberhentian Sementara Dirinya Terkesan Diskriminasi

oleh
Surat Telaahan Staf Kecamatan Kauditan dan surat pemberhentian sementara Hukum Tua Kaima.
Surat Telaahan Staf Kecamatan Kauditan dan surat pemberhentian sementara Hukum Tua Kaima.

Minahasa Utara, inspirasikawanua.com – Beredarnya Surat dari Kecamatan Kauditan dan surat pemberhentian sementara Hukum Tua Kaima Bernadus Togas terkait penanggalan pasien jenasa Covid-19 yang tidak sesuai dengan prosedur tetap kesehatan Covid-19 menurut Surat Telaahan Staf dari Kecamatan Kauditan.

Berdasarkan Surat tersebut kemudian dikeluarkan surat pemberhentian sementara Hukum Tua Kaima yang tertanggal 6 Oktober hingga 5 November, sekaligus dengan penjabat sementara dan ditandatangani langsung oleh Bupati.

Dengan hal tersebut Hukum Tua Kaima Bernadus Togas menuturkan, sebagai Kumtua definitif yang diamanatkan oleh rakyat desa Kaima, untuk melayani masyarakat tentu merasa terzolimi dengan Surat Edaran Bupati Minut ini yang terkesan diskriminasi.

“Saya tidak pernah di tegur atau diklarifikasi terkait masalah ini oleh Camat Kauditan selaku Ketua gugus tugas Covid19 di Kecamatan Kauditan.
Bahkan di rumah duka hadir pak Kapolsek, Babinkamtibmas, Kepala Puskesmas Kauditan dan para medis yang mengatur pemulasaran jenasah an. Tenden Mekel ibu saya.
Trus di ladang pekuburan Camat hadir dan memberikan sambutan yang intinya menyatakan dukacita, serta memberi apresiasi bagi kami keluarga yg telah mengikuti Protap Covid19 untuk pemakaman orang tua kami,” beber Togas.

Baca juga:  Kaporoh Bersaudara Berhasil Buka Akses Jalan Tertutup Longsor Kaleosan Kuwil
Camat Kauditan Royke Rampengan berada di Lokasi pekuburan orang tua Hukum Tua Kaima Bernadus Togas
Camat Kauditan Royke Rampengan berada di Lokasi pekuburan orang tua Hukum Tua Kaima Bernadus Togas.

Lanjut Hukum tua dirinya merasa aneh, karena Camat sendiri yang melapor bahwa dia sebagai Hukum Tua sekaligus Ketua gugus tugas Covid 19 lalai dalam penanganan Covid 19 di desa Kaima.

“Jika di malam pemakaman itu terjadi kerumunan, kenapa Camat tidak menginstruksikan kepada jajarannya untuk membubarkan? atau paling tidak berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk membubarkan masyarakat pada saat itu.
Saya kan dalam suasana duka, kemudian keluarga saya cukup besar di Kaima, dan saya tidak pernah mengundang masyarakat untuk hadir di rumah duka,” jelas Bernadus Togas.

Baca juga:  Tampil ‘Terpesona’, Tim Masamper PN Airmadidi Jadi Yang Terbaik Raih Juara I

Ditambahkannya, menurut dia, penonaktifannya sebagai Hukum Tua Kaima ini sangat-sangat prematur jika itu alasannya.
Jadi pihaknya sudah berkoordinasi dengan saudara-saudara, teman dan kerabat untuk melakukan upaya hukum terkait masalah ini, supaya jadi pembelajaran bagi pemimpin yang HEBAT di Minut ini.

“Sampai saat ini saya belum pernah tanda tangan berita acara serah terima, karena mereka tidak pernah mengundang saya hingga sekarang ini,” tegas Hukum Tua.

Sementara itu terpisah Camat Kauditan Royke Rampengan saat dikonfirmasi terkait masalah ini masih sibuk dan sementara mengikuti sidang majelis di gerejanya.

“Nanti kita bakabar ulang ne, Ada sementara sidang majelis di gereja,” jawab Camat singkat. (Josua)

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *